Kenapa Pengusaha Banyak Utang Tapi Tetap Kaya?

Kita semua Mungkin udah gak asing lagi sama yang namanya utang. Kalau ketinggalan dompet ngutang dulu ke teman, kalau Kepepet di akhir bulan ngutang dulu ke warung.

Saat ini kita semakin dimanjain sama utang-utang bukan lagi buat hal-hal yang Kepepet doang tapi juga buat kebutuhan pokok hiburan sampai modal usaha mulai dari kredit rumah, kredit kendaraan, kredit usaha, beli gadget bahkan liburan aja tuh bisa ngutang, dibayar pakai cicilan.

Ayo siapa aja di sini yang suka ngutang?

Aku ngerti banget kalau di hidup ini ada aja saatnya kita Kepepet dan butuh pinjaman uang di sisi lain nggak jarang juga kita dengar banyak masalah yang terjadi karena utang.

Mulai dari dikejar-kejar sama debt collector, jatuh bangkrut, bahkan ada juga yang sampai masuk penjara gara-gara utang.

Pernah kepikiran nggak sih apa ngutang itu hal buruk? Masih boleh dilakukan sesekali nggak atau sebaiknya kita nggak usah hutang sama sekali?

Nah artikel kali ini aku mau bahas tentang utang. Yuk kita bahas bareng-bareng.
Pertama kita perlu ngebedain dulu utang berdasarkan penggunaannya ada yang namanya utang konsumtif dan ada yang namanya utang produktif.

Kita bahas tentang konsumtif itu dulu ya..

Hutang Konsumtif

Gampangnya utang konsumtif itu adalah utang yang dipakai buat hal-hal yang berkaitan sama konsumsi. Konsumsi di sini tuh bisa macam-macam, mulai dari kebutuhan yang esensial sampai keinginan yang sifatnya hiburan atau gaya-gayaan doang.

Hutang konsumsi ini bisa dipersepsiin kayak kita minjem uang ke pemasukan kita di masa depan buat menuhin kebutuhan atau keinginan kita saat ini. Jadi nilai manfaat yang didapat dari utang konsumtif itu adalah pemenuhan kebutuhan atau keinginan yang lebih cepat dari seharusnya.

Contoh utang konsumtif yang berkaitan sama kebutuhan tuh misalnya utang buat beli makanan pokok, pendidikan anak, kredit rumah, pengobatan, hal-hal yang emergency dan lain-lain.

Sementara utang konsumtif yang berkaitan sama keinginan tuh contohnya utang buat beli gadget, hiburan, hobi, termasuk liburan. Jadi utang konsumtif itu perlu dibedakan lagi nih, Mana yang buat kebutuhan dan mana yang buat keinginan.

Sekarang kita lanjut ke hutang produktif

Hutang Produktif

Hutang produktif itu adalah utang yang dipakai buat membeli, membuat atau mempelajari sesuatu yang bisa menjadi Sumber penghasilan kita di masa depan. jadi manfaat dari utang produktif ini itu adalah kesempatan untuk bisa punya aset atau menciptakan Sumber penghasilan baru di masa depan.

Contoh hutang produksi itu adalah hutang buat bikin usaha, hutang untuk sertifikasi profesi tertentu, hutang untuk beli tanah dan tanah yang dipakai buat bangun ruko atau kos-kosan atau bisa juga utang beli kendaraan buat dijadiin ojek online.

Biasanya cicilan dari utang produktif ini tuh bisa dibayar pakai penghasilan yang kita dapat dari sumber pemasukan baru yang kita bikin. Misalnya nih kita ngajuin kredit buat beli satu unit apartemen terus apartemennya kita sewain kita akan dapat biaya sewa tiap bulan.

Nah biaya sewa itu bisa kita pakai buat bayar cicilan pembelian unit apartemen tersebut. Setelah kreditnya lunas kita jadi punya satu aset yang bisa secara produktif menghasilkan uang buat kita

Oke sekarang kamu udah ngerti ya bedanya utang konsumtif dan utang produktif

Kalau kita balik lagi ke pertanyaan awal, Apakah semua utang itu buruk dan apakah sebaiknya kita nggak usah ngutang sama sekali? Jawabannya tergantung bentuk utangnya dulu seperti apa.

Yang jelas utang untuk konsumsi yang di dasari keinginan doang tuh sebaiknya enggak dilakuin sementara. Dari sudut pandang keuangan, hutang produktif dan konsumtif untuk kebutuhan tuh masih boleh dilakuin, Asalkan kita bisa memperhitungkan risiko dan kemampuan bayar kita buat melunasi hutang tersebut.

Kemampuan bayar utang itu bisa dilihat dari rasio cicilan dan pendapatan bulanan Maksudnya gimana? Cicilan utang kamu tuh berapa persen sih dari pendapatan kamu?

Kalau pendapatan kamu 5 juta cicilan kamu satu juta berarti rasio utang dan pendapatan yaitu 20%. Secara umum rasio utang yang baik itu ada di angka 30%. Jadi maksimal cicilan kamu tuh cuma boleh sekitar 30% dari pendapatan kamu.

Tapi balik lagi ya, kondisi ekonomi setiap orang itu kan beda-beda dan pada akhirnya rasio utang yang baik itu sendiri bisa beda-beda buat orang, tergantung Jumlah pendapatan dan biaya hidup.

Jika sehari-hari hidup kamu cuma menghabiskan 35% dari pendapatan bulanan tentu kamu bisa punya rasio utang yang lebih tinggi misalnya 50% dari pendapatan karena kamu punya kemampuan untuk membayar cicilan tersebut

Sebaliknya nih kalau biaya hidup kamu tuh menghabiskan 80% dari pendapatan kamu berarti rasio utang yang baik buat kamu tuh lebih kecil lagi sekitar 10 sampai 15%.

Dengan melihat rasio utang ini kamu jadi bisa tahu nih hutang kamu masih wajar dan bisa dipertanggungjawabkan atau enggak. Prinsip yang sama juga bisa kita terapkan untuk melihat utang perusahaan bahkan utang negara.

Misalnya nih, kalau sebuah perusahaan mutusin buat ngajuin utang ke bank, kita bisa ngelihat nih utang itu dipakai buat hal konsumtif atau dipakai buat hal yang produktif.

Htang perusahaan yang bersifat konsumtif tuh misalnya utang buat renovasi ruangan yang nggak berdampak terhadap peningkatan produksi, liburan kantor hingga membeli fasilitas hiburan bagi para bos dan karyawan.

Terus hutang produktif Perusahaan kayak gimana?

Sama aja dengan definisi sebelumnya, utang produktif bagi perusahaan itu adalah utang yang dipakai buat hal-hal yang bisa berkontribusi untuk menambah penghasilan perusahaan dimasa depan.

Misalnya nih utang buat ekspansi bisnis, beli lahan buat bangun pabrik baru, beli mesin produksi, renovasi buat ningkatin kapasitas produksi dan lain-lain. Dalam konteks berhutang ini bukan berarti perusahaan tu enggak boleh punya fasilitas yang baik untuk karyawan, tetapi sebaiknya yang namanya hutang itu alokasinya harus proporsional dan memprioritaskan hal-hal yang sifatnya produktif.

Dalam kacamata pebisnis, punya utang ke bank itu udah jadi hal yang wajar banget tapi dalam hal ini pengusaha sebaiknya lebih cermat dalam menilai Apakah utang perusahaan tersebut sehat dan bisa dipertanggungjawabkan.

Caranya adalah dengan menghitung proporsi alokasi utangnya. Berapa banyak sih untuk hal produktif dan berapa banyak untuk hal konsumtif. Selain itu kemampuan perusahaan tersebut untuk membayar utangnya di masa mendatang juga perlu diperhitungkan.

Cara ngitungnya Ya sama aja kayak orang pribadi kita bisa ngelihat rasio utang tersebut dibandingkan dengan pendapatan atau dengan ekuitas perusahaan sebelumnya.

Terus kalau utang negara gimana?

Sebetulnya sama aja kita bisa ngeliat alokasi penggunaan utang negara tuh untuk hal yang konsumtif atau produktif. Hutang konsumtif negara tuh contohnya utang yang dipakai buat renovasi gedung pemerintah jadi lebih mewah, dipakai buat fasilitas para pejabat untuk kenaikan tunjangan PNS atau bahkan dipakai buat subsidi BBM. Semua hal tersebut adalah anggaran konsumsi.

Alokasi utang negara yang produktif itu kayak gimana ya?

Sesuai dengan definisi sebelumnya, utang yang bisa membuat Sumber penghasilan baru. Contohnya nih utang buat bikin proyek pembangunan yang nantinya menjadi Sumber penghasilan baru bagi negara, kayak jalan tol, bandara, rumah sakit dan lain-lain.

Kalau negara berhutang gimana? apa sebaiknya negara gak usah hutang aja?

Dalam skala kenegaraan, utang negara tuh udah jadi hal yang biasa bahkan dari total 195 negara yang ada di dunia 70% atau sekitar 190 negara punya utang.

Negara-negara maju yang ekonominya udah sangat kuat sekali pun juga punya utang seperti Amerika, Jerman, Inggris, Korea, China, Jepang dan lain-lain.

Yang perlu dikawal dan diperhatikan itu adalah pengelolaan dan pengalokasian utangnya. Apakah utangnya dialokasikan untuk hal-hal produktif atau konsumtif.

Selain pengelolaan dan pengalokasian dalam konteks utang negara juga perlu diperhitungkan kemampuan bayar hutangnya. Biasanya tolak ukur yang dipakai itu adalah rasio utang terhadap pendapatan domestik bruto.

Untuk Indonesia sendiri batas aman utang Indonesia itu 60% dari pendapatan domestik bruto. Mungkin lain kali aku akan bahas tentang ini lebih detil ya.

Walaupun prinsipnya sama, Di mana utang itu sebaiknya digunakan untuk hal-hal yang produktif tapi dalam konteks kenegaraan kadang utang konsumtif yang tujuannya untuk mempercepat Kesejahteraan Rakyat juga biasa dilakuin karena dalam bernegara tujuan utamanya tuh bukan untuk berbisnis melainkan untuk membangun kesejahteraan rakyat

Baca juga:

Kesimpulan

Aku coba rangkum sedikit ya pembahasan kita kali ini tentang utang.

Yang pertama hutang itu perlu dilihat dari Apakah hutang itu untuk hal yang produktif atau untuk hal yang konsumtif. Kalau hutang itu untuk hal yang konsumtif apakah untuk hal-hal yang berkaitan dengan kebutuhan atau keinginan, maka sebaiknya kita menghindari utang konsumtif untuk memenuhi keinginan.

Yang kedua kita perlu memperhitungkan kemampuan bayar utang. Kemampuan bayar utang ini tuh bisa dilihat dari rasio cicilan dan pendapatan kamu. Kalau rasionya masih wajar berarti Bisa dibilang utang Kamu tuh masih sehat dan bisa dipertanggungjawabkan

Pesanku yang terakhir nih buat kamu yang saat ini lagi punya utang..

Ingat hutang itu adalah janji yang harus ditepati, terlepas itu utang ke temen ke bank ke partner bisnis atau ke siapa pun tetap harus dibayar karena selain hal itu berpengaruh terhadap catatan bayar utang kita, sebagai peminjam ada hal yang jauh lebih mahal dari utang yaitu kepercayaan orang lain dan kredibilitas Kita sebagai manusia yang punya integritas.

Oke deh segitu aja artikel kali ini, Semoga Bermanfaat

Leave a Comment